14 Februari 2011

- - 1 comment

Teknik Mewarnai Film Hitam-Putih Ternyata Rumit, Lama, dan Mahal

Pernah penasaran menonton film dokumenter atau film komersil jadul yang semestinya hitam-putih tapi ternyata sudah berwarna? Ini soal memuaskan rasa ingin tahu saja sih. Bagaimana si pembuat bisa membedakan warna-warna apa saja yang ada dalam film yang aslinya tidak berwarna? Konon, teknik pewarnaan film sebenarnya sudah ada sejak 1930-an, tapi ketika itu biayanya terlalu mahal, bahkan buat produser dengan bujet super besar sekalipun. Mau tahu kenapa?


Sebab, proses menambah warna pada film hitam putih sangat lama dan mungkin membosankan buat yang mengerjakannya. Bayangkan, orang mesti mewarnai tiap bentuk dalam tiap frame satu persatu seperti membuat film kartun ala Walt Disney. Edan! Terang saja kemahalan. Untuk satu foto mungkin masih masuk akal. Para bangsawan dan juragan-juragan mestinya mampu. Tapi, untuk sebuah film berdurasi 60 menit saja misalnya, di mana tiap detik butuh 60 gambar, totalnya adalah 216 ribu frame yang harus diwarnai satu persatu, dengan konsistensi serta presisi tinggi supaya bagus.


Untungnya perkembangan pesat dunia komputer memungkinkan film dikonversi ke dalam versi digital. Di sinilah pewarnaan film-film hitam putih mulai dilakukan secara massal, utamanya film dokumenter. Film lama dipindai ke komputer dan orang yang mewarnai dapat melihat film frame per frame di layar monitor. Seorang pakar pewarna dapat menarik outline untuk tiap area warna dan komputer secara otomatis mengisinya. Film hitam-putih memang telah berubah ke bentuk digital, namun dia tetap menampung semua informasi gradasi gelap-terangnya, sehingga seorang pekerja dapat mewarnai berbagai area dengan satu warna dan data film aslilah yang dipakai untuk menentukan gradasi warnanya.


Dalam perkembangan selanjutnya, untuk lebih mempercepat proses pewarnaan digunakanlah teknik yang disebut interpolasi. Dari frame ke frame umumnya hanya ada sedikit variasi posisi objek dan manusianya. Oleh karena itu, seorang pewarna mungkin cukup mewarnai satu frame saja untuk sepuluh rangkaian frame dan komputer dapat mengisi warna di antara keduanya.

Teknik pewarnaan komputerisasi ditemukan oleh Wilson Markle, seorang insinyur kelahiran Kanada, yang pertama kali digunakan pada 1970 untuk menambah warna film monokrom dari rekaman misi Apollo 11. Kendati begitu, biaya pembuatannya tetap saja terhitung mahal. Majalah Popular Mechanics pernah membuat laporan pada 1987 bahwa biaya pewarnaan per menit lebih dari 3.000 dolar AS. Sementara itu, majalah Variety pada 1988 memerkirakan meski biaya pewarnaan untuk sebuah film lawan berkisar 300 ribu dolar AS, pendapatan yang bisa dikeruk oleh rilis versi berwarna sekitar 500 ribu. Jadi, meremajakan arsip film-film jadul ternyata cukup menguntungkan.

Berikut ini teknik pewarnaan dengan Photoshop:

1 komentar:

  1. mantab gan.
    .
    .
    .
    .
    salam semangat
    .
    .
    http://kabartebo.blogspot.com/2015/01/cara-memperbaiki-film-tampil-hitam-putih.html

    BalasHapus

Tinggalkan pesan baik Anda puas maupun tidak. Saya juga tidak keberatan pengunjung meninggalkan komentar dengan tautan balik (backlink) sepanjang komentarnya cukup relevan, tidak terlalu promosi atau jualan. Terima kasih atas kunjungan Anda.

Beranda - Tentang Berita Pilihan - Kebijakan Privasi - Kontak