01 Februari 2011

- -

11 Tewas Akibat Banjir Bandang di Jeddah Arab Saudi (Foto dan Video)

Jumlah korban tewas akibat hujan lebat Rabu (26/1) telah meningkat menjadi sedikitnya 11 jiwa. Sepuluh korban tewas diidentifikasi sebagai dua penduduk lokal Saudi, dua asal Chad, satu Mesir, satu Turki, satu Filipina, satu Yaman, satu Bangladesh, dan satu dari Nepal. Sementara itu, korban banjir kesebelas belum bisa diidentifikasi. Jumlah korban mungkin bisa bertambah karena ada tiga orang telah dilaporkan hilang oleh keluarganya. Sedikitnya 100 orang terluka, sedangkan tiga orang berada dalam perawatan intensif.


Departemen Pendidikan Arab Saudi menyatatakan bahwa sekolah baik swasta maupun publik libur sejak 11 Februari lalu. Jalan-jalan utama kini sudah dibuka kembali, namun banyak warga di distrik yang diterjang banjir belum bisa memakai telepon seluler akibat kerusakan menara BTS di sekitar lokasi.


Listrik di sebagian besar rumah penduduk sudah kembali, tetapi Perusahaan Listrik Saudi mengatakan 4.361 pelanggan masih dilanda kegelapan. Juru bicara polisi Jeddah, Kolonel Al-Juaid Misfer, dikabarkan telah mengirim unit polisi ke daerah-daerah kurang listrik untuk mencegah penjarahan. Helikopter SAR terus melakukan pencarian di wilayah Timur Haramain Expressway dan wilayah lain kota tersebut. Sementara itu, Pertahanan Sipil melaporkan bahwa sejak Kamis malam mereka telah menyelamatkan 1.451 jiwa.


Polisi lalu lintas dikerahkan dalam jumlah yang lebih besar untuk melancarkan jalur arteri utama kota, seperti Andalus dan Raja Abdullah Road. Para pejabat memerkirakan lebih dari 11.000 mobil terdampar di berbagai lokasi akibat banjir bandang. Selain petugas juga tercatat lebih dari 60 Pramuka terlihat membantu polisi lalu lintas di sejumlah jalan.


Kota kedua terbesar di Arab Saudi dan pusat perdagangan di wilayah Barat itu diguyur hujan terus-menerus. Sebelumnya Jeddah juga pernah banjir, tetapi genangan air yang terjadi 26 Januari 2011 itu jauh lebih parah, sejumlah pabrik berhenti beroperasi lantaran persediaan air tak layak dipakai. Banjir juga memengaruhi distribusi pangan. Saleh Hefni, bos pabrik makanan Halawani Ikhwan, mengatakan bahwa mobil pengangkut perusahaannya serta sejumlah truk terpaksa berhenti beroperasi karena hujan. Hal ini menyebabkan gangguan di sekitar 8.000 lokasi penjualan di Jeddah dan Mekah.


Kerugian akibat banjir ditaksir mencapai tiga miliar real (sekitar tujuh triliun rupiah). Menurut Hefni, banjir kali ini akan memengaruhi sebagian besar perusahaan di Jeddah, khususnya importir. Genangan air dalam gudang-gudang penyimpanan mengakibatkan kurangnya pasokan buah-buahan dan sayuran dalam beberapa hari mendatang.


Jeddah adalah salah satu pusat perdagangan Arab Saudi. Banyak pengusaha maupun pekerja asing yang tinggal di sana. Seorang warga distrik Bani Malik, Abu Muhammad, bersyukur karena kerjasama antartetangga terjalin baik, terutama ketika bencana terjadi. "Saya ingin secara khusus mengucapkan terima kasih kepada buruh asing yang berada di sini untuk bantuan tanpa pamrih mereka kepada orang-orang di lingkungan kami yang dilanda banjir," katanya kepada Arab News.


Sempat ada rumor bahwa sejumlah mekanik memanfaatkan kejadian itu untuk kepentingan pribadi. Namun, Mustafa Al-Shami, seorang mekanik mobil yang sibuk memerbaiki mobil akibat banjir, membantah hal itu. "Ini adalah tuduhan palsu terhadap kami dengan mengatakan bahwa kami menuntut biaya ekstra dari korban banjir," katanya, "Aku tak menyangkal ada yang seperti itu, tetapi sebagian besar dari kita bekerja sama dengan penduduk yang mobilnya mogok akibat banjir. Kami tak pernah minta biaya lebih dari biaya normal."







Sumber: Arab News
Beranda - Tentang Berita Pilihan - Kebijakan Privasi - Kontak